Lampas Tayang Melawen Tunduh

Diposting oleh Ricky_Jo Blog's | 11:32 PM | 0 komentar »

Lampas Tayang Melawen Tunduh

Lampas tayang melawen tunduh, Turang
Nginget-nginget katandu rutang
Piah-piah nggo mbages berngi
Daging ngalah rukur pe latih Turang

Melenget meriso ertangkel si sada Turang
Si man tangkelen lalap la tembe
Piah sampur iluh i mata
Mambur iluh mambur ku pusuh Turang

Bage gia la kusumpah padan
Iluh naring mambur Turang
Tapi bage gia uga kubahan bangku
Kena nari rukur Turang

Mehuli ndube siban arihta Turang
Aku pagi bandu nindu man bangku
Tapi gundari kita enggo sirang
Kai salahku robah kal aku Turang
Robah kal aku mesayang…
Lanjutkan Membaca Tentang “Lampas Tayang Melawen Tunduh”  »»

Menunggu Peceren Tinggal Kenangan

Diposting oleh Ricky_Jo Blog's | 11:13 PM | 44 komentar »

Menunggu Peceren Tinggal Kenangan


(Alto belli Ginting april 1 2008)

Desa Peceren sejak lama disebut-sebut sebagai desa wisata budaya. Alasannya masuk akal, desa ini merupakan salah satu dari tiga desa yang mewakili sejarah peradaban dan budaya Karo. Desa lainnya, Lingga dan Dokan. Hal ini ditandai dengan masih berdirinya rumah adat Si Waluh Jabu, rumah adat berusia ratusan tahun yang menyiratkan kekayaan adat masyarakat setempat. Hanya saja, sebutan itu sungguh ironis jika melihat langsung kondisi Desa Peceren saat ini.

“Saya rasa, sebutan desa wisata budaya itu tidak layak lagi untuk Peceren. Itu tempo doeloe.” Demikian pendapat Subur Ginting, salah seorang penduduk setempat. Sungguh ironis memang. Pasalnya, gambaran sebuah desa yang potensi wisatanya kerap dijual lewat publikasi ataupun melalui “booklet-booklet tourism” ke seluruh pelosok negeri bahkan manca negara itu sering membuat turis “kecewa”. Hal ini terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara apa yang digambarkan lewat publikasi dengan gambaran yang sesungguhnya.

Mengapa demikian? “Pengunjung sering terkejut. Mereka tidak menyangka kondisi sebenarnya seperti ini. Sangat bertentangan dengan apa yang dipaparkan dalam “booklet-booklet” pariwisata itu. Inilah kondisinya. Tak terawat. Lantas,masih pantaskah ini disebut desa budaya?,” katanya menunjukkan rumah adat yang menjadi daya jual utama desa berpenduduk lebih dari 700 kepala keluarga itu. “Jika memang desa ini disebut-sebagai desa budaya, mengapa kondisinya dibiarkan seperti ini. Ya, seharusnya dibenahi dong,” tambahnya

Dalam buku panduan pariwisata yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Karo tertulis gambaran: “Wisata Budaya…. Desa Peceren merupakan desa kecil di pinggiran Kota Berastagi yang didiami kira-kira 700 keluarga. Nama resmiya adalah Desa Sempa Jaya. Peceren memiliki 6 rumah adat tradisional Karo dan yang masih digunakan ada 4 rumah. Rumah tertua kira-kira berusia 120 tahun. Kita dapat mengunjungi dan melihat bagaimana warga yang hidup di dalamnya. Untuk mencapai Peceren kita dapat menggunakan transportasi lokal tujuan Medan ataupun dengan berjalan kaki.”

Sayangnya, gambaran desa budaya Peceren pada buku panduan wisata yang dikeluarkan pada 2007 itu, tak lagi sesuai. Berdasarkan pantauan Global, rumah adat Si Waluh Jabu yang tersisa hanya 3 rumah. Dua di antaranya masih didiami, sedangkan sisanya tak berpenghuni lagi. Malah, kini dibiarkan begitu saja oleh sang pemilik. Pintuya terbuka begitu saja, tangga rumah tak ada lagi. Bahkan, kondisi rumah ini menciptakan kesan memprihatinkan. Sayang sekali peninggalan sejarah budaya seperti ini dibiarkan begitu saja Yang Berpenghuni pun karena terpaksa soalnya dengan nilai kontrakan yang murah.

Memang, akhir-akhir ini geliat pariwisata Karo tak seperti dulu lagi atau nyaris tak bergeming. Hal ini dapat terlihat dari jumlah kunjungan wisatawan yang tahun demi tahun belakangan ini semakin menurun. Buktinya, dari data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata setempat, tercatat penurunan drastis dari tahun 2003 hingga 2007.

Pada tahun 2003 tercatat 400.231 kunjungan wisatawan. Dari jumlah itu hanya 6.557 yang berasal dari mancanegara. Jumlah ini kemudian menurun pada tahun 2006 menjadi 283.563 dan hanya 4.665 orang di antaranya yang berasal dari mancanegara. Dan diperkirakan 30 persen dari jumlah kunjungan tidak memasuki objek wisata.

“Kalau dulu, tahun 1998 ke bawah, paling tidak 3 – 6 mobil travel singgah di sini setiap hari. Saya malah pernah menikmati kejayaan itu. Soalnya jika wisatawan ramai datang, tak sedikit yang memberikan tips jika diantarkan berkeliling melintasi desa setelah melihat-lihat rumah adat,” ujar Pak Ginting.

Selain Peceren, desa lainnya yang memiliki peninggalan yang sama adalah Desa Lingga dan Dokan. Terakhir, tarif masuk ke lokasi Desa Lingga sudah dihapuskan. Meski demikian, objek ini pun tak kalah sepi.

Pergeseran nilai budaya

Peceren termasuk salah satu dusun bagian wilayah Desa Sempa Jaya. Sempa Jaya sendiri memiliki 10 dusun. Penduduknya, kira-kira 6.000 kepala keluarga atau sekitar 20 ribu jiwa. Mayoritas penduduknya bertani sayur-sayuran seperti daun sop, prei, selada, tomat, dan lain-lain. Tanahnya subur dan cuacanya sejuk. Dan, memiliki panorama alam yang masih alami.

Tak dapat disangkal pula bahwa pergeseran nilai budaya turut merembes di desa ini. Hal ini juga ditandai dengan semakin jarangnya diselenggarakan ritual-ritual budaya lama. Meski masih ada tradisi yang masih bertahan hingga kini, ritual pesta buah atau pesta tahunan di mana warga setempat merayakan masa panen, tradisi itu sudah dipengaruhi budaya modern yakni dengan masuknya unsur musik modern di dalamnya.

“Saat ini sudah jarang diselenggarakan musik-musik tradisional yang menampilkan atraksi asli budaya Karo. Yang sering malah musik keyboard. Maka, sangat disayangkan pula jika generasi-generasi sekarang tidak lagi mengenal dan mencintai tradisi budayanya sendiri,” ujar Subur Ginting, salah seorang petani setempat.

Pergeseran lainnya, juga terdapat dari nilai budaya yang “dijual” di Desa Peceren, yakni Rumah adat Si Waluh Jabu yang merupakan salah satu peninggalan budaya Karo, yang nilai-nilai keasliannya pun kini sebenarnya sudah mulai bergeser.

Masuk akal memang. Soalnya dalam rumah ini, sesuai hukum adat yang berlaku, lazimnya didiami lebih dari satu keluarga. Jika melihat situasi modern saat ini, tentu sungguh tidak nyaman mendiaminya. Maka tak heran pula jika kini rumah Si Waluh Jabu sudah tidak didiami penghuni aslinya atau pemilik yang didasari garis keturunan orangtua terdahulu. Dua rumah yang tersisa kini disewakan kepada siapa saja, termasuk pendatang.

“Lagipula, tinggal di rumah Si Waluh Jabu penuh dengan aturan-aturan adat yang ketat. Kadang-kadang aturan itu tidak sesuai lagi jika melihat zaman modern seperti sekarang ini,” ujar Boru Sitanggang salah satu penghuni yang sudah mengontrak selama 4 tahun dengan suaminya bermarga Sembiring beserta seorang anaknya yang masih kecil. “Jika tidak dalam kondisi perekonomian yang terpaksa, sebenarnya kami tidak tinggal di sini,”tambahnya.

Untuk memperbaiki sebagian atap yang bocor, ia bersama pengontrak lainnya terpaksa patungan untuk mengumplkan biaya pengganti ijuk menjadi atap rumbia.

“Saya tidak tahu mengapa tak ada perhatian pemerintah kepada rumah adat ini. Padahal katanya desa ini disebut sebagai desa wisata budaya. Sebenarnya, rumah adat ini sudah sering disorot media maupun para peneliti dari universitas, tapi nampaknya sia-sia. Saya tidak tahu apakah rumah adat ini akan dibiarkan punah begitu saja,” tambahnya.

Pembenahan rumah adat Si Waluh Jabu memang membutuhan biaya yang tidak sedikit. “Paling tidak dibutuhkan 500 juta per unitnya,” kata Kepala Bidang Pemasaran, Promosi dan Bina Usaha Pariwisata Kabupaten Karo, Piala Putera SE, ketika dikonfirmasi beberapa waktu yang lalu.

Tinggal kenangan? Barangkali, prediksi itu bukan sekadar isapan jempol. Pasalnya, meski dalam paparan program kerja Dinas Pariwisata Kabupaten Karo tahun 2007, disebutkan bahwa Desa Peceren termasuk salah satu objek wisata yang akan dibenahi tahun ini, namun realisasinya belum juga terlihat.

“Program yang terpapar dalam satuan kerja itu akan dibahas lagi. Tentu akan diprioritaskan objek mana yang lebih diutamakan karena anggaran yang tersedia dari APBD untuk sektor pariwisata cukup terbatas,” tambah Kepala Seksi Pengawasan dan Perizinan Usaha Pariwisata Karo, Kasman Sembiring.

Desa wisata budaya Peceren adalah salah satu aset peninggalan budaya yang kini dalam penantian. Penantian akan perhatian dari tangan pihak yang peduli dengan nasibnya. Alsaan in cukup berdasar. Pasalnya seperti yang kemudian dikatakan Piala Putra,” Si Waluh Jabu adalah milik rakyat, jadi tidak sepenuhnya ditimpakan kepada pemerintah.”

Jika penatian itu tak berbuah, barangkali Pak Ginting benar,”Desa Peceren hanya akan tinggal kenangan”. Tak heran pula jika kini jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Kini, Desa Peceren pun mulai bergerak sesuai arus — modernisasi. Sebagian Si Waluh Jabu kini telah berubah wujudnya menjadi rumah beton.

Dan dengan menjamurnya perumahan dan villa membuat peceren semakin jauh dari struktur desa adat, dan juga hadirnya rumah bordil yang disebut dengan "SARIKOTO",
maka semakin rusaklah desa yang selama ini diagungkan.
saya selaku putra kelahira Peceren semakin pedih melihat akan hal ini.
Lanjutkan Membaca Tentang “Menunggu Peceren Tinggal Kenangan”  »»

Karo Mania

Diposting oleh Ricky_Jo Blog's | 6:58 PM | 4 komentar »



Lanjutkan Membaca Tentang “Karo Mania”  »»

Masi Dalam Tahap Uji Coba

Diposting oleh Ricky_Jo Blog's | 1:33 PM | 0 komentar »

senjaku

~~~~senjaku~~~~
senjaku.........!
wajahmu penuh seri....
serimu beribu teri.....
maka jadilah misteri pelangi...

di raut muka nan sore harinya
di kabut mata cerah menantinya
penuh tanda girang tiada terkira
ingin segera melihatnya

wahai pelangi nan berseri
mengajakku untuk menitiknya dari sebelah kiri
mengungkap sebuah misteri
yang ingin aku tanggapi

perpaduan warnamu menakjubkan kalbu
membuatku terasa terkesipu malu
menganggapmu hanyalah satu
warna yang kau rangkai dalam tubuhmu

sungguh indah otak pesonamu
membuat nya mengungkap bak air
percikan kecil yang mengalir
dari sebuah sungai terhirup olehmu

benarkah kata orang ?
kau sedang dalam kehausan girang
menghabiskan telaga sebrang
tapi aku tak pedulikan mereka bilang

itu hanyalah perkataan yag tiada bermakna
hal benar tidaknya hanyalah Dia
kita kembali kepada semula
Segalanya adalah ciptaaan dari Sang Pencipta

adakah hatimu terusik
ketika senja turun hujan
pelangi membias di langit
menyapamu dalam dinginnya senja

adakah hatimu berdebar
keteika suara lembut menyapamu
dalam petikan kecapi berdenting
mengalunkah melodi

mengapa resah kau bayangi malam
dalam kesendiriaan kau berdendang
ada irama yang mengusik hatimu
dalam galau dan resah berkalut

trima kasihku kawan
mereka yang sudi ungkapkan
mengetik dalam jawaban
yang telah aku ajukan
wih......ok rest for all....good luck


Nikmatnya_sore_ini
Lanjutkan Membaca Tentang “Masi Dalam Tahap Uji Coba”  »»